Archive | May, 2014

Tutorial Cara Membuat Flashdisk Bootable Menggunakan Rufus

6 May

Cara membuat flashdisk bootable dengan cepat – Jika kawan berniat hendak mengnstall OS misalnya saja Windows 7 lewat sebuah flashdisk, maka hal pertama yang harus dipersiapkan adalah dengan membuat flashdisk bootable. Di internet banyak sekali software yang bisa kita gunakan untuk membuat flashdisk menjadi bootable. Semua program-program tersebut bekerja sama baiknya dalam proses pembuatan flashdisk bootable. Namun semua program tersebut cukup menyita sedikit waktu dalam mentransfer file ISO ke flashdisk. Jika kawan ada yang belum tahu tentang file ISO, berikut penjelasan singkatnya;

File ISO merupakan duplikat dari sebuah CD. Untuk membuka file ISO, kita harus membakarnya atau dengan kata lain memindahkan file ini ke dalam CD untuk meng-ekstrak isinya. Begitu pun sebaliknya, untuk menghindari rusaknya fisik pada sebuah CD, maka untuk berjaga-jaga kita harus men-duplikat isi dari CD tersebut ke dalam bentuk file yang bernama file ISO. Bagaimana? Jelas kan?

Dari sekian banyak program atau software pembuat flashdisk bootable, Rufus adalah program yang paling cepat dan paling mudah untuk digunakan. Menurut pihak pengembangnya, Rufus mampu bekerja dua kali lebih cepat dari program sejenis seperti WinToFlash, Universal USB Installer dan Windows 7 USB/DVD Tool. Jadi bagi para pemula seperti saya, Rufus adalah pilihan terbaik yang bisa dipakai untuk membuat flashdisk bootable. Untuk mendapatkan Rufus, kawan bisa langsung menuju di website resminya di alamat http://rufus.akeo.ie/

Berikut ini saya sampaikan beberapa kelebihan dari software Rufus
– bisa didownload secara gratis
– jenis software portable (tidak perlu diinstall di komputer)
– mudah digunakan
– bekerja paling cepat dibandingkan software sejenis

Setelah kawan mendapatkan Rufus, selanjutnya kita akan bahas bersama cara memnggunakannya. Ikuti langkah-langkah di bawah ini;
1. Jalankan Rufus
2. Pada Device, pilih flashdisk yang akan dijadikan menjadi flashdisk bootable
3. Pada File system, pilih FAT32
4. Pada Cluster size, pilih 4096 bytes (Default)
5. Pada New volume label, beri nama untuk flashdisk bootable misalnya saja Bootable Windows 7
6. Pada Format options;
– centang Quick format
– centang Create bootable disk using, pilih ISO Image kemudian cari file ISO yang akan kita transfer ke flashdisk
– centang Create extended label and icon files
7. Klik Start, selesai.

Image

Untuk membuat flashdisk bootable, sebenarnya kita juga bisa membuatnya tanpa menggunakan software pihak ketiga yang telah disebutkan di atas termasuk Rufus. Yaitu dengan menggunakan perintah CMD (command prompt). Namun seperti yang telah saya katakan di awal, bagi para pemula seperti saya, software semacam Rufus sangat membantu pekerjaan ini. Oke kawan, itulah penjelasan singkat tentang cara membuat flashdisk bootable menggunakan Rufus

Advertisements

SOFTSKILL 1

6 May

Sebabnya komunikasi itu penting dalam suatu organisasi :

1.    Menghasilkan pemahaman yang sama antara pengirim informasi dengan penerima

informasi pada semua tingkatan dalam organisasi.

2.    Membangun iklim organisasi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi efisiensi dan

produktifitas organisasi.

3.    Membangkitkan kinerja orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut yang pada

akhirnya dapat mempengaruhi efektifitas organisasi.

 

  1. Jenis dan Proses komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi :

A.  Komunikasi Internal :

Proses komunikasi di antara para pengurus dan anggota dalam ruang lingkup suatu organisasi, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal, sehingga kerja organisasi dapat berjalan. Komunikasi internal terdiri atas empat bagian, yaitu :

1.    Downward Communication (komunikasi dari atas ke bawah) :

Komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajer atau supervisor mengirimkan pesan kepada bawahannya.

Fungsi komunikasi dari atas ke bawah antara lain :

a.    Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja.

b.    Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan.

c.    Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku.

d.   Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.

Metode komunikasi dari atas ke bawah antara lain :

a.    Metode tulisan.

b.    Metode lisan.

c.    Metode tulisan diikuti lisan.

d.   Metode lisan diikuti tulisan.

2.    Upward Communication (komunikasi dari bawah ke atas) :

Komunikasi yang terjadi ketika bawahan mengirim pesan kepada atasannya.

  • Fungsi komunikasi dari bawah ke atas antara lain :

a.    Penyampaian informai tentang pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan.

b.  Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan.

c.    Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan.

d.   Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.

Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah. Alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat sulit dan rumit :

a.    Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka.

b.    Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik kepada masalah yang dialami pegawai.

c.    Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai.

d.   Perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang 
disampaikan pegawai.

3.    Horizontal Communication (komunikasi sesama) :

Komunikasi yang berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara.

Fungsi komunikasi sesama antara lain :

a.    Memperbaiki koordinasi tugas.

b.    Upaya pemecahan masalah.

c.    Saling berbagi informasi.

d.   Upaya pemecahan konflik.

e.    Membina hubungan dan mempererat kekeluargaan melalui kegiatan bersama.

4.    Interline Communication (komunikasi lintas saluran) :

Komunikasi untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas-saluran ini karena biasanya tanggung jawab

mereka berhubungan dengan jabatan fungsional. Kondisi yang harus dipenuhi dalam komunikasi lintas-saluran :

a.    Setiap pegawai yang ingin berkomunikasi melintas saluran harus meminta izin terlebih dahulu dari atasannya langsung.

b. Setiap pegawai yang terlibat dalam komunikasi lintas-saluran harus memberitahukan hasil komunikasinya kepada atasannya.

B.  Komunikasi Eksternal :

Proses komunikasi di antara para pengurus dan anggota suatu organisasi dengan orang atau masyarakat umum.

1.    Komunikasi dari organisasi kepada masyarakat.

Contohnya : konferensi pers, iklan, brosur

2.    Komunikasi dari masyarakat kepada organisasi.

Contohnya : menerima saran kritik, hotline customer service 24 jam

  1. Komunikasi Efektif dalam Organisasi

Sebagai orang nomor satu dalam organisasi yang Anda pimpin—atau posisi apapun yang Anda duduki di dalamnya—komunikasi selalu memainkan peran yang paling menentukan terhadap kehidupan organisasi secara keseluruhan. Seringkali organisasi mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan disebabkan oleh faktor komunikasi yang tidak efektif. Perintah dari seorang pemimpin yang pada hakikatnya adalah komunikasi seringkali menjadi tidak jelas dan sulit diimplementasikan karena komunikasi yang dijalankan tidak efektif.

Komunikasi yang sulit dipahami—untuk kemudian diimplementasikan dalam program organisasi—tentu bukan masalah baru. Sejak lama, orang merumuskan bagaimana agar komunikasi sebagai sebuah hubungan timbal-balik, tidak hanya memainkan peran sebagai pengiriman pesan kepada pihak lain, tetapi juga menjadi perekat yang bersifat sosio-psikologis, terlebih dalam sebuah organisasi yang menghendaki kerjasama yang sinergis.

Diantara semua masalah yang muncul, disiplin komunikasi menerjemahkan gejala tersebut sebagaimiscommunication (kekeliruan dalam komunikasi) sehingga proses komunikasi tidak dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan. Dengan kata lain, tidak efektif atau terhambat.

Conor Hanaway dan Gabriel Hunt yang keduanya adalah pakar dan konsultan manajemen pada beberapa organisasi profit besar di dunia mencatat hambatan-hambatan komunikasi[1] yang biasa terjadi dalam

organisasi sebagai berikut:

1.      Bahasa

Jika Anda menginginkan komunikasi yang sukses, pengirim pesan harus mempersiapkan pesan dalam bahasa penerima pesan. Laporan ilmiah yang sangat teknis tidak akan mempengaruhi kaum profesional dari bidang lain untuk melakukan tindakan.

1.      Kebisingan

Istilah “kebisingan” (noise) mengacu pada semua hal yang mengganggu atau memperburuk komunikasi dalam organisasi. Misalnya, pesan Anda mengalami “bentrok” dengan pesan lain yang sama-sama harus diperhatikan. Jika si penerima mendapatkan banyak sekali memo setiap harinya, Anda harus memikirkan cara lain untuk mengirimkan pesan Anda.

1.      c. Terlalu bertele-tele

Hindari gaya militer yang berlapis-lapis. Gunakan sesedikit mungkin tahap dalam komunikasi Anda. Pembuka adalah penting, namun hendaknya jangan sampai membuat Anda menjadi lupa terhadap inti pesan yang ingin Anda sampaikan sehingga penerima mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi pesan.

1.      d. Kesulitan mendengar

Ada banyak sekali kesulitan mendengar di pihak penerima. Tekanan kerja, masalah pribadi, prioritas lain atau kelebihan komunikasi merupakan penyebab munculnya kesulitan mendengarkan.

1.      e. Ketidakpercayaan

Ada banyak alasan mengapa pihak penerima tidak percaya dan bersikap sinis terhadap suatu komunikasi. Sebagian rasa tidak percaya tersebut bisa jadi disebabkan oleh pihak pengirim—misalnya, jika Anda menandai semua surat Anda, “penting”, atau jika Anda tidak begitu terbuka dalam komunikasi sebelumnya.

1.      f. Emosi

Emosi mempengaruhi komunikasi dalam, setidaknya, dua cara. Pertama, situasi yang sarat emosi dapat menyebabkan terjadinya banyak ebisingan yang menyebabkan penyimpangan komunikasi. Kedua, cara paling efektif untuk membuat seseorang melakukan tindakan adalah melalui emosi mereka.

1.      g. Lingkaran umpan-balik

Tidak adanya lingkaran umpan-balik membuat pihak pengirim tidak yakin bahwa pesan telah sepenuhnya dimengerti

Berbagai hambatan komunikasi di atas tentu saja menyadarkan kita agar komunikasi yang dibangun—terlebih dalam konteks organisasi—hendaknya dilangsungkan secara efektif. Secara praktis, komunikasi efektif dapat dipahami sebagai fenomena terbalik dari gejala-gejala di atas tadi, yakni terciptanya sebuah interaksi yang saling memahami maksud pesan dari masing-masing arah yang pada tujuan akhirnya mampu mentransmisi dan mentransfer gagasan melalui peramuan pesan sebaik mungkin.

Konflik dalam organisasi bisa terjadi,dikarenakan antara pemimpin dan anggota mempuyai pendapat tersendiri tentang apa yang sedang di diskusikan. Konflik terjadi biasanya untuk meyelesaikan masalah,tetapi lebih sering jika konflik terjadi malah organisasi tersebut pecah. Dalam meyelesaikan konflik dibutuhkan skill dan pengalaman yang besar. Agar konflik terhindar haruslah dari diri sendiri mempunyai sikap pengertian dari satu sama lain, saling menghargai termasuk poin penting dalam berorgansasi. Baik dari pemimpin atau anggota harus mengerti dan menerima pendapat dari anggota lain.Perlu adanya kebijaksanaan dan toleransi dalam peyelesaian konflik dalam organisasi.

Jika konflik tidak bisa dipecahkan, harus ada sosok pemimpin untuk memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Konflik sendiri memang tidak diinginkan oleh semua manusia, namun tidak bisa dihindari. karena pendapat setiap orang itu berbeda-beda.

Dari segi dampak yang timbul

Dari segi dampak yang timbul, konflik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konflik fungsional dan konflik infungsional. Konflik dikatakan fungsional apabila dampaknya dapat memberi manfaat atau keuntungan bagi organisasi, sebaliknya disebut infungsional apabila dampaknya justru merugikan organisasi. Konflik dapat menjadi fungsional apabila dikelola dan dikendalikan dengan baik.

http://parapepetualangmimpi.blogspot.com/2012/04/konflik-dalam-organisasi-sumber-konflik.html

http://ekaayu-wulandari.blogspot.com/2013/05/komunikasi-efektif-dalam-organisasi.html

http://riderheiseiku.wordpress.com/2013/03/31/peran-komunikasi-dalam-organisasi/

KESIMPULAN

Komunikasi adalah Suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari suatu pihak ke pihak yang lain dengan tujuan tercapai persepsi atau pengertian yang sama.

Menurut Laswell unsur-unsur komunikasi, yaitu Pengirim atau komunikator (sender), Pesan (message), Saluran (channel), Penerima atau komunikate (receiver), Umpan balik (feedback), dan aturan yang disepakati.

Ada 5 tahap dalam menyalurkna ide melalui komunikasi, yaitu Ide (gagasan), Penyaluran (Transmitting), Tindakan, Pengertian, dan Penerimaan.

4 hambatan dalam komunikasi, yaitu Hambatan dari Proses Komunikasi, Fisik, Semantik, dan Psikologis.

 

Pengertian Kelompok

Kelompok dapat diartikan sejumlah orang yg terlibat dalam interaksi pada suatu pertemuan tatap muka, di mana setiap anggota mendapat kesan yg jelas, sehingga seseorang baik di saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dpt memberikan tanggapan kepada yang lainnya.

Menurut ADLER & RODMAN, Kelompok adalah sekumpulan kecil orang ygsaling berinteraksi, biasanya tatap muka dlm waktu yg lama guna mencapai tujuan tertentu. Ada 4 elemen kelompok yaitu: interaksi, waktu, ukuran, tujuan.

 

 

 

 

  1. Karakteristik Kelompok

Karakteristik Kelompok (Sorsyth, 1979), yaitu:

1. Interaksi → Fisik, verbal, nonverbal, emosional

2. Struktur → Pola hubungan yang stabil diantara anggota

– Role yang telah diharapkan dan seseorang yang telah menduduki

– Norma : Aturan yang mengidentifikasi atau mendeskripsikan perilaku yang tepat

– Relasi antar anggota

3. Tujuan

– Intrinsik

– Ekstrinsik (tujuan bersama):

  1.  Faktor pemersatu paling kuat (ex: olah raga)

b. Memotivasi perilaku tertentu sehingga tujuan tercapai

4. Groupness → entitavity (kesatuan) : Tingkat dimana kesatuan kekuatan

tunggal menyatu

5. Ketergantungan Dinamis

Tahap-tahap Pembentukan Kelompok

Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.

 

Tahap 1 – Forming

Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya.

 

Tahap 2 – Storming

Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang mandenk pada tahap ini.

 

Tahap 3 – Norming

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.

 

Tahap 4 – Performing

Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.

 

Tahap 5 – Adjourning dan Transforming

Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

 

  1. Teamwork atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.

 

     Dalam sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.

      
         Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu. Bahkan dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang terkadang menyimpan pula perselisihan. Makanya sangat penting untuk menyadari bahwa kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.

 

Berikut poin-poin teamwork yang baik:

      a.      Teamwork adalah kerjasama dalam tim yang biasanya dibentuk dari beragam divisi

             dan kepentingan.

      b.      Sama-sama bekerja bukanlah teamwork, itu adalah kerja individual.

      c.      Filosofi teamwork: ‘saya mengerjakan apa yang Anda tidak bisa dan Anda mengerjakan

            apa yang saya tidak bisa.

      d.   Ketika berada dalam teamwork, segala ego pribadi, sektoral, deparmen harus

      e.       Dalam teamwork yang dikejar untuk dicapai adalah target bersama, bukan individual.

      f.        Keragaman individu dalam teamwork memang sebuah nilai plus namun bisa menjadi

             minus jika tidak ada saling pengertian.

      g.      Saling pengertian terhadap karakter masing-masing anggota team akan menjadi modal

             sukses bersama.

      h.      Jika setiap orang bekerjasama via bidang masing-masing, target korporasi pasti akan

             segera terealisasi.

       i.       Individu yang egois mengejar target pribadi akan menghambat keberhasilan team.

             Bayangkan jika si A mengejar target A & si B mengejar target B, lalu target bersama

             bermuara kemana?

       j.       Keahlian masing-masing sungguh menjadi anugerah dalam teamwork yang akan

             mempercepat proses pencapaian target.

      k.      Kendalikan ego dan emosi saat bersama agar pergesekan tidak berujung pada

             pemboikotan kerjasama.

      l.        Dengan pemahaman yang tinggi soal karakter individu dalam team, realisasi target

             tidak perlu waktu yang lama.

     m.     Ingatlah selalu bahwa: ‘teamwork makes the dream work’.

 

  1. Organisasi Lini

 Diciptakan oleh Henry Fayol, Organisasi lini adalah suatu bentuk organisasi yang menghubungkan langsung secara vertical antara atasan dengan bawahan, sejak dari pimpinan tertinggi sampai dengan jabatan-jabatan yang terendah, antara eselon satu dengan eselon yang lain masing-masing dihubungkan dengan garis wewenang atau komando. Organisasi ini sering disebut dengan organisasi militer. Organisasi Lini hanya tepat dipakai dalam organisasi kecil. Contohnya; Perbengkelan, Kedai Nasi, Warteg, Rukun tetangga.

 

Keuntungan-keuntungan penggunaan organisasi tipe garis adalah :

Ada kesatuan komando yang terjamin dengan baik.

Disiplin pegawai tinggi dan mudah dipelihara (dipertahankan).

Koordinasi lebih mudah dilaksanakan.

Proses pengambilan keputusan dan instruksi-instruksi dapat berjalan cepat.

Garis kepemimpinan tegas, tidak simpang siur, karena pimpinan langsung berhubungan dengan bawahannya sehingga semua perintah dapat dimengerti dan dilaksanakan.

Rasa solidaritas pegawai biasanya tinggi.

Pengendalian mudah dilaksanakan dengan cepat.

Tersedianya kesempatan baik untuk latihan bagi pengembangan bakat-bakat pimpinan.

Adanya penghematan biaya.

Pengawasan berjalan efektif.

Kelemahan-kelemahan organisasi garis :

Tujuan dan keinginan pribadi pimpinan seringkali sulit dibedakan dengan tujuan organisasi.

Pembebanan yang berat dari pejabat pimpinan , karena dipegang sendiri.

Adanya kecenderungan pimpinan bertindak secara otoriter/diktaktor, cenderung bersikap kaku (tidak fleksibel).

Kesempatan pegawai untuk berkembang agak terbatas karena sukar untuk mengabil inisiatif sendiri.

Organisasi terlalu tergantung kepada satu orang, yaitu pimpinan.

Kurang tersedianya saf ahli.

Organisasi Lini Dan Staff
Merupakan kombinasi dari organisasi lini, asaz komando dipertahankan tetapi dalam kelancaran tugas pemimpin dibantu oleh para staff, dimana staff berperan memberi masukan, bantuan pikiranm saran-saran, data informasi yang dibutuhkan.

Keuntungan penggunaan bentuk organisasi garis dan staf :

Asas kesatuan komando tetap ada. Pimpinan tetap dalam satu tangan.

Adanya tugas yang jelas antara pimpian staf dan pelaksana

Tipe organisasi garis dan staf fleksibel (luwes) karena dapat ditempatkan pada organisasi besar maupun kecil.

Pengembalian keputusan relatif mudah, karena mendapat bantuan/sumbangn pemikiran dari staf.

Koordinasi mudah dilakukan, karena ada pembagian tugas yang jelas.

Disiplin dan moral pegawai biasanya tinggi, karena tugas sesuai dengan spesialisasinya

Bakat pegawai dapat berkembang sesuai dengan spesialisasinya.

Diperoleh manfaat yang besar bagi para ahli

 Kelemahan-kelemahan dari bentuk Organisasi garis dan staf :

Kelompok pelaksana terkadang bingung untuk membedakan perintah dan bantuan nasihat

Solidaritas pegawai kurang, karena adanya pegawai yang tidak saling mengenal

Sering terjadi persaingan tidak sehat, karena masing-masing menganggap tugas yang dilaksanakannyalah yang penting

Pimpinan lini mengabaikan advis staf

Apabila tugas dan tanggung jawab dalam berbagai kerja antara pelajat garis dan staf tidak tegas, maka akan menimbulkan kekacauan dalam menjalankan wewenang

Penggunaan staf ahli bisa menambah pembebanan biaya yang besar

Kemungkinan pimpinan staf melampaui kewenangan stafnya sehingga menimbulkan ketidaksenangan pegawai lini

Kemungkinan akan terdapat perbedaan interpretasi antara orang lini dan staf dalam kebijakan dan tugas-tugas yang diberikan sehingga menimbulkan permasalahan menjadi kompleks

Organisasi Fungsional
Diciptakan oleh Frederick W. Taylor, Organisasi ini disusun berdasarkan sifat dan macam pekerjaan yang harus dilakukan, masalah pembagian kerja merupakan masalah yang menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.

Keuntungan-keuntungan menggunakan organisasdi fungsional :

Spesialisasi dapat dilakukan secara optimal

Para pegawai bekerja sesuai ketrampilannya masing-masing

Produktivitas dan efisiensi dapat ditingkatkan

Koordinasi menyeluruh bisa dilaksanakan pada eselon atas, sehingga berjalan lancar dan tertib

Solidaritas, loyalitas, dan disiplin karyawan yang menjalankan fungsi yang sama biasanya cukup tinggi.

Pembidangan tugas menjadi jelas

 Kelemahan-kelemahan organisasi fungsional :

Pekerjaan seringkali sangat membosankan

Sulit mengadakan perpindahan karyawan/pegawai dari satu bagian ke bagian lain karena pegawai hanya memperhatikan bidang spesialisasi sendiri saja

Sering ada pegawai yang mementingkan bidangnya sendiri, sehingga koordinasi menyeluruh sulit dan sukar dilakukan

Organisasi Lini Dan Fungsional
Suatu bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada perkepala unit dibawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu dan selanjutnya pimpinan tertinggi tadi masih melimpahkan wewenang kepada pejabat fungsional yang melaksanakan bidang pekerjaan operasional dan hasil tugasnya diserahkan kepada kepala unit terdahulu tanpa memandang eselon atau tingkatan.

Kebaikan organisasi Lini dan fungsional :

Solodaritas tinggi

Disiplin tinggi

Produktifitas tinggi karena spesialisasi dilaksanakan maksimal

Pekerjaan – pekerjaan yang tidak rutin atau teknis tidak dikerjakan

 Sedangkan keburukannya adalah :

Kurang fleksibel dan tour of duty

Pejabat fungsional akan mengalami kebingungan karena dikoordinasikan oleh lebih dari satu orang

Spesiaisasi memberikan kejenuhan

 

Organisasi Komite
Suatu organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu lainnya dilaksakan secara kolektif.

Kebaikan Organisasi komite :

Pelaksanaan decision making berlangsung baik karena terjadi musyawarah dengan pemegang saham maupun dewan

Kepemimpinan yang bersifat otokratis yang sangat kecil

Dengan adanya tour of duty maka pengembangan karier terjamin

 Sedangkan keburukannya :

Proses decision making sangat lambat

Biaya operasional rutin sangat tinggi

Kalau ada masalah sering kali terjadi penghindaran siapa yang bertanggung jawab

Kesimpulannya Kelompok atau team merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil dimana untuk berkomunikasi lebih mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apa yang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggota tersebut.

 

http://novelaranie.blogspot.com/2012/11/organisasi-lini.htmlhttp://rizkyfebriyanto.blogspot.com/2013/06/kekuatan-team-work.htmlhttp://noviraekaputri.blogspot.com/2010/10/tahap-tahap-pembentukan-kelompok.html

 

CONTOH KASUS :

Contoh konflik yang fungsional dengan kasus seorang manajer perusahaan yang menghadapi masalah tentang bagaimana mengalokasikan dana untuk meningkatkan penjualan masing-masing jenis produk. Pada saat itu setiap produk line berada pada suatu devisi. Salah satu cara pengalokasian mungkin dengan memberikan dana tersebut kepada devisi yang bisa mengelola dana dengan efektif dan efisien. Jadi devisi yang kurang produktif tidak akan memperoleh dana tersebut. Tentu saja di sini timbul konflik tentang pengalokasian dana. Meskipun dipandang dari fihak devisi yang menerima alokasi dana yang kurang, konflik ini dipanang infungsional, tetapi dipandang dari perusahaan secara keseluruhan konflik ini adalah fungsional, karena akan mendorong setiap devisi untuk lebih produktif. 

Kesimpulan

Para manajer akan menemukan cara yang lebih efisien dalam menggunakan dana.

Mereka mungkin bisa menemukan cara untuk menghemat biaya.

Mereka meningkatkan prestasi masing-masing devisi secara keseluruhan sehingga bisa tersedia dana yang lebih besar untuk mereka semua.